Selasa, 01 November 2011

Pengakuan Seorang PSK

     Dina adalah seorang gadis polos nan cantik dikala ia masih duduk di bangku kuliah disebuah universitas swasta di Jakarta 5 tahun lalu. Saat itu ia adalah gadis terpandai dan menjadi kesayangan setiap dosen pengajar. Tak jarang para dosen mempercayakan ia mengajar sebagai asisten dosen untuk menggantikan para dosen ketika mereka berhalangan hadir. Kala itu segala sesuatunya berjalan dengan baik dan manis. Ia pun mulai bermimpi menjadi orang yang sukses dan berhasil dalam berbagai bidang.
     Sampai akhirnya ia berkenalan dengan Kurniawan, seorang pemuda tampan dan kaya. Kurniawan begitu mengagumi kecantikan dan kepintaran Dina. Sesekali mereka pergi berkencan di akhir pekan. Mereka berdua begitu mesra dan saling menyayangi. Rasanya, hidup mereka hanya diisi oleh cinta, cinta dan cinta. Mereka saling mengisi satu sama lain, bahkan mereka selalu belajar bareng di perkuliahan mereka. Sampai akhirnya mereka lulus dan meraih gelar kesarjanaan mereka.
     Orang tua Dina sangat setuju dengan hubungan mereka, dan mereka sangat mendukung setiap rencana-rencana mereka termasuk rencana pernikahan mereka. Tetapi sayangnya, ibu Kurniawan sangat menentang pernikahan tersebut. Ia tidak ingin Kurniawan menikahi Dina, sebab Kurniawan akan dijodohkan dengan anak rekan bisnis ibunya, Shinta. Tak jarang Kurniawan mendapat teguran dari sang ibu dan berharap Kurniawan membatalkan pernikahan tersebut. Tetapi Kurniawan tidak mengikuti keinginan ibunya, ia tetap menikahi Dina tanpa persetujuan ibunya.
     Setahun setelah pernikahan tersebut, Dina dan Kurniawan telah memiliki putera, Andi dan mereka tinggal di daerah BSD - Serpong. Disana mereka membuka bisnis traveling dan resto. Usaha mereka kian maju berkat rekan-rekan bisnis mereka yang selalu mendukung dan membantu mereka. Hingga akhirnya mereka mampu memiliki segalanya. 
     Shinta yang merasa dihina dengan penolakan Kurniawan ternyata menyimpan dendam dan bermaksud menghancurkan kehidupannya. Setelah ia mengetahui keberadaan Kurniawan, ia menyewa preman-preman untuk menghancurkan bisnis Kurniawan. Dan usaha mereka berhasil. Dengan kelicikan dan kelihaian mereka, mereka menghancurkan bisnis Kurniawan. Mereka berhasil membuat rekan-rekan bisnisnya menjauhi dan menarik semua aset-aset yang mereka berikan. Bahkan untuk menutupi semua kekurangannya, Kurniawan menjual rumah mereka. Dan mereka pun terpaksa mengontrak sebuah rumah kecil.
     Kurniawan yang stres akibat kehancuran bisnisnya pergi ke bar. Ia menghabiskan malam-malamnya dengan ecstasy dan bermabuk-mabukan. Setiap hari Kurniawan seperti itu, sampai akhirnya ia mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. 
     Sang ibu tidak menerima kejadian tersebut. Ia begitu terpukul dan menganggap Dina adalah wanita pembawa sial. Ibu Kurniawan begitu membenci Dina dan mengusir Dina dari rumahnya ketika Dina memohon belas kasihan mertuanya tersebut. Ibunya hanya mau merawat Andi, dengan syarat Dina harus memberi biaya hidup kepada Andi.
     Dina yang tak tahu harus berbuat apa, terpaksa menerima ajakan temannya untuk bekerja sebagai pegawai hotel di Jakarta. Dia bekerja sebagai terapis untuk shift malam. Awalnya Dina hanya melayani sebagai terapis saja. Tetapi lantaran kebutuhan dan tawaran yang cukup menggiurkan saat itu dari sang pria, ia mau melayani pria itu. Dengan sedih ia mengakhiri malam itu, dan ia tak henti-hentinya mengeluarkan air mata menanggung kesedihan yang ia derita.
     Sebenarnya biasa saja ia meminta pertolongan orang tuanya, tetapi ia tidak mau orang tuanya tau kejadian yang telah alami. Ia tidak mau orang tuanya sedih akan derita yang ia alami yang menyebabkan ia akhirnya terjerumus dalam pekerjaannya tersebut.
     Sampai kini, ia tetap menutup rapat-rapat cerita itu dari semua orang. Hanya beberapa rekannya saja yang mengetahui latar belakang Dina.

Pesan Moral
     Pesan yang bisa kita dapat dari cerita ini adalah, kehidupan seseorang itu terjadi akibat pengalaman-pengalaman masa lalu. Pengalaman-pengalaman pahit biasanya akan menimbulkan kesedihan dan kepahitan pula. Sebaliknya, pengalaman-pengalaman manis akan membuat hidup lebih indah. Tetapi, janganlah kita mudah menilai seseorang buruk atau jahat hanya karena kita melihat mereka melakukan sesuatu yang jahat. Kita terlalu sering menilai seseorang tanpa mengetahui penyebab kenapa orang tersebut melakukan hal itu.
     Dari kisah Dina, pengalaman pahit yang ia alami bahkan juga dari mertuanya membuat ia terpaksa menjadi PSK hanya untuk mencukupi kebutuhan anaknya, Andi. Mungkin kita bisa berkata, lebih baik Dina bekerja di tempat lain saja. Tetapi, walaupun dengan titel yang ia peroleh, ternyata ia tetap tidak bisa mendapat pekerjaan lantaran Shinta sudah menutup akses dengan jalan memberikan profil Dina sebagai wanita yang buruk kesetiap perusahaan-perusahaan yang ada.
     So, mari kita belajar untuk tidak segera menilai buruk seseorang hanya karena ia melakukan sesuatu yang buruk tanpa kita tahu apa latar belakangnya. Belajarlah untuk menghargai siapapun juga, sebab orang seperti Dina pun juga adalah insan yang pantas mendapat perhatian dan belas kasihan kita. Bukan hanya cercaan sebagai wanita perusak rumah tangga orang, atau wanita murahan, sundal, lonte dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar